Kesehatan Rubrik Pembaca

Corona, Hanyalah Akal-akalan?

“Corona, itu tidak ada, kalaupun ada, tidak berbahaya.”

Begitulah, pernyataan teman saya. Seorang generasi milenial, sarjana. Dan saya berkali-kali, mendengar, banyak orang yang masih berpikir serupa. Kalaupun percaya ada Corona, mereka tak percaya, Corona itu berbahaya. Mereka percaya, penyakit bawaan, atau penyakit penyulit, macam diabet, jantung, hipertensi, stroke, dll. yang bikin penderita Corona meninggal.

Dan mereka, percaya. Corona itu dibikin-bikin oleh RS, agar dapat klaim dari pemerintah.

Saya kaget dan heran. Di bulan Desember ini, masih ada, generasi milenial, berpendidikan yang membuat atau percaya pernyataan seperti itu setelah hampir setahun Covid merajalela di Nusantara dan seluruh dunia.

Saya tak heran bila pikiran itu ada di bulan Maret atau April. Saat itu memang, Corona baru mulai membara. Jangankan warga biasa, pejabat negara selevel menteri pun, saat itu banyak yang berpikiran serupa, setidaknya meremehkan.

Pun di bulan, Mei atau Juni. Masih banyak yang tak percaya bahayanya Corona. Artis Jerinx SID, jadi tokoh utama yang berpandangan, Covid adalah konspirasi global. Sehingga kelompok ini menolak tes rapid, swap, bahkan menolak memakai masker.

Sebagai mantan pasien Covid 19, dengan klasifikasi berat, yang hampir game over. Tentu, saya dengan serius menjelaskan pengalaman nyata yang saya alami kepada teman tersebut. Hingga pikirannya berubah, menjadi sebaliknya, yaitu, Corona itu ada, dan sungguh bisa sangat berbahaya.

Uce Prasetyo saat terbaring di rumah sakit pasca terpapar Covid-19 Oktober 2020 lalu. (Dok. pribadi Uce)

Mengapa mereka berpikiran begitu? Hemat saya adalah :
Pertama : Dunia maya, mensuplai jutaan informasi tentang Corona, termasuk yang kontra. Dengan mendengungkan teori konspirasi global, banyak orang yang lebih percaya teori ini. Daripada penjelasan dan data-data yang disajikan pemerintah. Latar belakang kelompok sosial nya, berpengaruh dominan, dalam mempengaruhi pendapat mereka.

Baca Juga  Pilkada dan Covid

Kedua : Beragamnya penderita Corona. Dari yang tak bergejala, ringan, yang hanya seperti batuk pilek, sedang, yang demam atau sesak ringan, atau berat, yang sangat sesak, batuk, bahkan hingga meninggal.

Mayoritas penderita Covid adalah yang OTG dan bergejala ringan (80%). Ini yang tersering jadi sumber issue yang didengungkan. Seolah-olah, Corona itu tak ada, tak berbahaya, dan seolah hanya permainan petugas kesehatan.

Namun, bagi kami, yang pernah menderita, pernah terserang Corona klasifikasi berat, atau bahkan ada keluarga yang meninggal, dengan sepenuh hati, sepenuh jiwa, siap bersaksi bahwa :
Corona itu ada,
Corona bukan permainan RS / petugas,
Corona itu berbahaya,
Corona bisa mematikan baik dengan atau tanpa penyakit penyerta / penyulit lainnya.

Sangatta, 24 Desember 2020
“Tentang si Corona, Eps. 01”
Ditulis oleh : Uce Prasetyo (Praktisi Kesehatan, Politikus PPP, CAWABUP KUTIM 2021-2024)
Disunting oleh : bollem (red.)