You dont have javascript enabled! Please enable it! Melampaui Bendera Dan Kembang Api, Mengartikan Ulang Kemerdekaan Indonesia - Sangattaku

Melampaui Bendera dan Kembang Api, Mengartikan Ulang Kemerdekaan Indonesia

Kamis, 17 Agustus 2023

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Gambar : Ilustrasi (*/ist)

SANGATTAKU – “Merdeka atau mati!” seruan heroik itu menderu dalam angin pada tanggal 17 Agustus 1945, ketika Indonesia dengan bangga mengumumkan kemerdekaannya dari cengkeraman penjajah. Kini, ketika kita merayakan ulang tahun kemerdekaan yang ke-78, waktunya untuk merenung dan memahami ulang arti sejati dari kemerdekaan yang telah kita perjuangkan dengan begitu gigih.

Kemerdekaan, bukanlah hanya sebatas pencapaian geografis dan politik. Ia adalah kebebasan yang mendasar, hak asasi manusia yang menjadi landasan segala bentuk eksistensi dan kemajuan. Namun, di balik peringatan pesta kemerdekaan yang dihiasi dengan bendera merah putih dan kembang , sering kali terkubur dalam kerumitan makna sebenarnya.

Kemerdekaan bukanlah sekedar hak untuk tidak dijajah oleh bangsa asing, melainkan hak untuk mengejar potensi diri dalam semua bidang. Ia adalah hak untuk berbicara, berpikir, dan bertindak tanpa rasa takut, tanpa penghambatan yang tidak beralasan. Kemerdekaan adalah panggilan untuk berperan aktif dalam masyarakat, untuk ikut menentukan arah masa depan bangsa.

Namun, seringkali kita melihat bahwa kemerdekaan dipandang terbatas hanya pada tataran politik dan administratif. Harus diakui bahwa upaya pembebasan fisik dari penjajahan adalah langkah awal yang penting, tetapi sejauh mana kita telah mewujudkan makna yang lebih dalam dari kemerdekaan? Apakah kita telah benar-benar merdeka dari kungkungan prasangka, ketidaksetaraan, dan keterbatasan?

Kemerdekaan sejati adalah ketika setiap individu memiliki kesempatan yang sama untuk berkembang dan berkontribusi, tidak peduli latar belakang , , atau etnis. Ini melibatkan tanggung jawab bersama untuk menghapus batas-batas yang memisahkan, dan membangun masyarakat yang inklusif. Ketika kita masih melihat ketidaksetaraan dalam , lapangan kerja, dan akses terhadap pelayanan , apakah kita benar-benar telah menghormati perjuangan para pahlawan kita?

Baca Juga  Tingkatkan Kesejahteraan Masyarakat, Pemkab Kutim Luncurkan Program Perlindungan BPJS Ketenagakerjaan bagi Pekerja Rentan

Kemerdekaan juga harus menghargai hak untuk berbicara dan berpendapat. Sudah selayaknya kita menjadi bangsa yang tidak hanya mendengar, tetapi juga menghormati pandangan yang berbeda. Inilah esensi demokrasi yang seharusnya merembes dalam setiap aspek kehidupan kita. Namun, saat ini, sering kita melihat ketidaktoleranan terhadap perbedaan pendapat, bahkan hingga tindakan kekerasan. Bukankah ini bertentangan dengan semangat kemerdekaan yang mengedepankan dialog dan kerja sama?

Kemerdekaan juga mengharuskan kita untuk melawan belenggu rasa takut. Bukan hanya takut pada otoritas atau penguasa, tetapi takut untuk berubah, takut untuk menghadapi tantangan baru, takut untuk mempertanyakan norma yang tidak lagi relevan. Hanya dengan melepaskan diri dari rasa takut, kita dapat meraih potensi penuh kita dan menciptakan perubahan positif.

Sebagai bangsa yang telah merdeka selama 78 tahun, tantangan yang kita hadapi semakin kompleks. Globalisasi, teknologi, dan perubahan sosial membawa kita ke dalam arus perubahan yang tidak dapat dihindari. Oleh karena itu, arti kemerdekaan juga berkaitan dengan kemampuan kita untuk beradaptasi dan berinovasi, tanpa meninggalkan akar budaya dan nilai-nilai luhur yang menjadi landasan kita.

Saat kita merayakan kemerdekaan, marilah kita memperingati dengan tekad baru: untuk menjalani kemerdekaan dengan benar. Bukan hanya sebagai momen seremonial, tetapi sebagai komitmen untuk merdeka dalam pikiran, perbuatan, dan semangat. Kita harus berusaha menjadi generasi yang meneruskan perjuangan para pendahulu kita, untuk membangun bangsa yang lebih adil, inklusif, dan maju.

Dalam perjalanan ini, mari kita renungkan ulang apa yang pernah dikatakan oleh Bung Karno, “Kita harus merdeka dari segala bentuk penjajahan.” Mari kita merdeka dari penjajahan ketidakadilan, ketidaksetaraan, ketidakpedulian. Mari kita menjadi generasi yang mengartikan kemerdekaan dalam segala tindakan dan pilihan kita. Kita, bersama-sama, dapat mewujudkan potensi sejati bangsa Indonesia yang merdeka dan berdaya. (*/)

Penulis merupakan  Muda yang saat ini menjabat sebagai Bendahara Dewan Pimpinan Cabang Persatuan  Republik Indonesia .

Penulis : Yudhie YAV

Berita Terkait

Pentingnya Politik Santun dan Berbudaya Jelang Pemilu 2024
Merajut Kembali Tenun Kebangsaan Melalui Pesan Budaya
Wajah Buram Politik Indonesia
Presiden Putin dan Kesejahteraan Kutim (Bagian Pertama)
BELA NEGARA DALAM PEREKONOMIAN
BELA NEGARA, EKONOMI, DAN COVID-19
Kaidah Jurnalistik, Etika dan Hukum, Sudahkah Berbanding Lurus?
Mengenal Perasaan Anda Lebih Jauh

Berita Terkait

Kamis, 17 Agustus 2023 - 15:56 WITA

Melampaui Bendera dan Kembang Api, Mengartikan Ulang Kemerdekaan Indonesia

Senin, 3 Juli 2023 - 20:22 WITA

Pentingnya Politik Santun dan Berbudaya Jelang Pemilu 2024

Minggu, 2 Juli 2023 - 21:36 WITA

Merajut Kembali Tenun Kebangsaan Melalui Pesan Budaya

Minggu, 2 Juli 2023 - 20:39 WITA

Wajah Buram Politik Indonesia

Selasa, 6 Desember 2022 - 00:20 WITA

Presiden Putin dan Kesejahteraan Kutim (Bagian Pertama)

Minggu, 31 Juli 2022 - 08:33 WITA

BELA NEGARA DALAM PEREKONOMIAN

Sabtu, 30 Juli 2022 - 12:13 WITA

BELA NEGARA, EKONOMI, DAN COVID-19

Selasa, 23 November 2021 - 21:05 WITA

Kaidah Jurnalistik, Etika dan Hukum, Sudahkah Berbanding Lurus?

Berita Terbaru

Berita

Kyai Tega Cabuli 5 Santriwati dan 2 Pegawai

Rabu, 12 Jun 2024 - 16:57 WITA

Maaf, Klik Kanan Tidak Diperkenankan Pada Laman Ini
Maaf, Text Pada Laman Ini Tidak Dapat Diseleksi
Sorry this site is not allow cut.
Maaf, Tidak Diizinkan Mencopy Isi Laman Ini
Sorry this site is not allow paste.
Sorry this site is not allow to inspect element.
Sorry this site is not allow to view source.

Maaf, Anda tidak diizinkan untuk mengcopy teks atau artikel ini