
SANGATTAKU – Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kabupaten Kutai Timur (Kutim) secara resmi meluncurkan Strategi Anti Anak Tidak Sekolah (SITISEK) sebagai respons atas tingginya angka Anak Tidak Sekolah (ATS) di wilayah tersebut. Berdasarkan data per Maret 2025 dari Pusat Data dan Informasi (Pusdatin) Kemendikbudristek, Kutim mencatat 13.411 anak yang tidak bersekolah, angka yang menempatkan daerah ini pada posisi tertinggi di Kalimantan Timur.

Kepala Disdikbud Kutim, Mulyono, menyatakan peluncuran SITISEK merupakan langkah strategis yang harus segera diambil untuk memastikan akses pendidikan yang merata dapat dijangkau oleh seluruh anak di Kutai Timur. Program ini didesain untuk menyelesaikan persoalan ATS secara sistematis dan membutuhkan dukungan kolaboratif dari semua pihak terkait, tidak hanya dari sektor pendidikan.
Dari total 13.411 data awal tersebut, komposisi ATS terdiri dari 9.945 anak yang belum pernah mengenyam bangku sekolah, 1.996 anak yang mengalami putus sekolah, dan 1.470 anak yang tidak melanjutkan ke jenjang pendidikan berikutnya. Data yang mencemaskan ini menjadi motor utama dibentuknya program lintas sektor SITISEK.
Melalui proses verifikasi awal yang ketat menggunakan metode by name by address (BNBA), Disdikbud berhasil mengurangi jumlah ATS sebanyak 2.872 anak. Ini berarti per tanggal peluncuran program, tersisa 10.539 anak yang masih belum mendapatkan layanan pendidikan formal. Mulyono menambahkan, masih ada 4.982 data lain yang kini menunggu proses pemadanan data bersama dengan Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Disdukcapil) sebelum diajukan untuk penghapusan atau penanganan lebih lanjut.

“Program SITISEK disusun untuk menjawab persoalan ATS secara sistematis dan kolaboratif. Penanganannya membutuhkan keterlibatan semua pihak,” ujar Mulyono saat peluncuran program yang digelar di Hotel Royal Victoria, Jumat (21/11/25) pagi. Ia menekankan bahwa keberhasilan menekan angka ATS tidak bisa hanya dibebankan kepada Disdikbud semata, melainkan tanggung jawab bersama seluruh elemen masyarakat, pemerintah daerah, hingga dunia usaha.
SITISEK dibentuk untuk mendukung visi pembangunan daerah “Kutai Timur Hebat 2045” dan sangat selaras dengan tujuan pembangunan berkelanjutan (SDGs/ Sustainable Development Goals) Nomor 4 yang fokus pada penyediaan pendidikan berkualitas. Melalui intervensi yang berkelanjutan dan terstruktur, Disdikbud Kutim menargetkan penurunan angka ATS secara signifikan, yaitu minimal 50 persen dalam jangka waktu tiga tahun ke depan. Target ambisius ini menuntut implementasi program yang masif, mulai dari verifikasi lapangan hingga kampanye motivasi bagi keluarga dan anak yang berisiko tidak sekolah. (adv/Diskominfo Kutim)




















