
SANGATTAKU – Kebijakan efisiensi keuangan daerah di Kutai Timur berdampak signifikan terhadap rencana pembangunan infrastruktur kebudayaan. Program ambisius pembangunan Museum Budaya Kutai Timur, yang telah lama dinantikan, terpaksa harus ditunda pelaksanaannya yang semula dijadwalkan dimulai tahun 2025.
Penundaan ini terjadi karena adanya pemotongan anggaran tahap awal. Kepala Bidang Kebudayaan Disdikbud Kutim, Padliyansyah, mengungkapkan bahwa dari total kebutuhan dana pembangunan museum yang diperkirakan mencapai sekitar Rp15 miliar, alokasi anggaran tahap awal untuk bangunan utama sebesar Rp2 miliar tidak dapat direalisasikan.

“Seharusnya tahun ini sudah ada progres pembangunan museum. Namun karena efisiensi, kami tunda dulu,” kata Padliyansyah, menjelaskan bahwa pemotongan ini merupakan konsekuensi langsung dari penyesuaian keuangan daerah yang berlaku.
Museum Budaya Kutai Timur direncanakan menjadi ikon baru bagi pengembangan kebudayaan lokal. Lokasinya sudah ditetapkan, yakni di Jalan Soekarno Hatta, di atas lahan seluas empat hektare. Padliyansyah memaparkan bahwa kawasan ini akan dikembangkan menjadi sebuah kompleks terpadu kebudayaan.
Kompleks terpadu tersebut tidak hanya akan mencakup bangunan museum sebagai wadah pameran sejarah dan artefak, tetapi juga dilengkapi dengan fasilitas penunjang lainnya. Rencananya, area tersebut akan memiliki gedung pertunjukan indoor dan outdoor, area khusus untuk Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM), serta ruang terbuka yang dapat digunakan untuk berbagai festival berskala besar.
Penundaan ini tentu menjadi kendala dalam upaya Disdikbud Kutim untuk menyediakan sarana prasarana yang memadai bagi pelestarian sejarah dan budaya daerah. Padahal, pembangunan museum merupakan langkah krusial untuk mendokumentasikan warisan Kutai Timur secara profesional dan permanen.
Meski menghadapi hambatan anggaran, Padliyansyah menyatakan optimisme bahwa proyek ini dapat dilanjutkan pada tahun berikutnya. Ia berharap ada dukungan dari berbagai pihak agar pembangunan dapat segera terealisasi.
“Mudah-mudahan tahun depan bisa dilanjutkan, termasuk dengan dukungan pemerintah pusat, dan para donator baik perusahan dan lainnya,” tambahnya.
Padliyansyah menegaskan, meskipun proyek infrastruktur besar seperti museum harus ditunda, semangat untuk menjaga pelestarian seni dan budaya daerah tetap akan dijaga. Hal ini diwujudkan melalui empat kegiatan kebudayaan yang tetap diprioritaskan pelaksanaannya pada akhir tahun 2025, termasuk Festival Magic Land dan Festival Pesona Budaya. Disdikbud berharap dukungan masyarakat tetap kuat agar geliat kebudayaan di Kutai Timur tidak surut, terlepas dari keterbatasan finansial yang ada saat ini. (adv/Diskominfo Kutim)




















