
SANGATTAKU – Meskipun telah menetapkan 35 sekolah sebagai Kandidat Sekolah Rujukan Google (KSRG), Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Kutai Timur (Disdikbud Kutim) mengakui bahwa tantangan terbesar yang dihadapi dalam program transformasi digital ini adalah peningkatan literasi dan kompetensi guru. Banyak tenaga pendidik yang masih memerlukan dorongan signifikan untuk adaptif terhadap perkembangan teknologi pendidikan.

Sekretaris Disdikbud Kutim, Irma Yudiwa, menyatakan bahwa penguasaan teknologi digital telah menjadi keharusan, terutama karena selaras dengan implementasi kurikulum terbaru yang menekankan pada konsep deep learning. Literasi digital ini dianggap krusial untuk menciptakan pembelajaran yang inovatif.
Irma menyebut peningkatan literasi digital masih menjadi tantangan besar bagi sejumlah guru. Penguasaan teknologi seperti Google Form, Google Sheet, Google Drive, hingga Google Workspace for Education dinilai wajib untuk mendukung pembelajaran yang inovatif. Alat-alat ini bukan lagi fasilitas tambahan, melainkan instrumen fundamental dalam proses pengajaran modern.
Untuk mengatasi tantangan tersebut, Disdikbud telah menggelar pelatihan intensif. Hingga tahap kedua program KSRG, tercatat sebanyak 957 guru dan tenaga kependidikan telah mengikuti bootcamp Sertifikasi Google Level Zero (L0). Pelatihan ini bertujuan memberikan fondasi dasar penggunaan platform Google for Education kepada ribuan tenaga pendidik di Kutim.
Meski demikian, proses evaluasi dan kualifikasi tidak berhenti di Level Zero. Disdikbud menetapkan standar yang tegas. “Dari peserta L0, minimal 30 persen harus lulus sertifikasi Level 1 sebagai syarat menuju sekolah rujukan,” kata Irma, Jumat (14/11/25).
Persentase kelulusan Level 1 ini menjadi barometer kesiapan sekolah secara keseluruhan. Jika ambang batas 30 persen tidak tercapai, sekolah tersebut berisiko tidak mendapatkan predikat rujukan, menunjukkan bahwa Disdikbud sangat serius dalam memastikan kualitas SDM digital.
Penguatan kompetensi ini ditekankan sebagai bagian dari kesiapan daerah dalam menyongsong bonus demografi pada 2035. Menurut Irma, kemampuan mengintegrasikan teknologi dalam pendidikan adalah prasyarat penting agar lulusan sekolah di Kutim memiliki daya saing global.
Disdikbud Kutim berharap, melalui upaya masif peningkatan SDM ini, kesenjangan penguasaan teknologi antara guru di wilayah perkotaan dan pelosok dapat diminimalisir. Target akhirnya adalah memastikan bahwa transformasi digital di 35 KSRG berjalan optimal, memberikan dampak positif yang merata terhadap kualitas pengajaran dan hasil belajar siswa. (adv/Diskominfo Kutim)




















