
SANGATTAKU – Pemerintah Kabupaten Kutai Timur menilai kebijakan penggunaan format terbuka atau open tournament pada ajang Futsal Bupati Cup 2025 memberikan dampak positif signifikan terhadap peningkatan kualitas atlet lokal. Kebijakan yang memungkinkan klub peserta menurunkan pemain profesional dari luar daerah tersebut dipandang sebagai strategi pembinaan yang efektif.
Bupati Kutai Timur, Ardiansyah Sulaiman, dalam acara penutupan turnamen di GOR Kudungga Sangatta, Sabtu malam, 22 November 2025, menjelaskan bahwa format ini menjadi pembeda utama dibandingkan edisi sebelumnya. Menurutnya, interaksi langsung dengan pemain berlevel profesional adalah proses pembelajaran yang tak ternilai harganya bagi para atlet daerah.

“Pelaksanaan tahun ini menggunakan format open tournament, yang memungkinkan setiap klub peserta menurunkan pemain profesional dari berbagai daerah. Kebijakan ini menjadi pembeda utama dibandingkan edisi sebelumnya, sekaligus memberikan warna baru pada dinamika pertandingan sepanjang turnamen,” jelas Bupati.
Bupati Ardiansyah menilai keterlibatan pemain profesional tersebut memberi banyak manfaat bagi perkembangan futsal di Kutai Timur. Ia menekankan bahwa atlet lokal memiliki kesempatan emas untuk mengamati teknik, strategi, hingga pola permainan yang ditampilkan oleh pemain yang lebih berpengalaman.
Hal ini, lanjutnya, merupakan pembelajaran langsung yang tidak selalu bisa diperoleh atlet di luar kompetisi resmi. Dengan adanya transfer ilmu dan pengalaman di lapangan, diharapkan standar permainan futsal di Kutai Timur dapat terangkat secara kolektif.
Lebih lanjut, Bupati menegaskan bahwa pemerintah daerah terus mendorong penyelenggaraan event olahraga semacam ini. Tujuannya adalah untuk membuka ruang pembinaan yang lebih luas bagi semua atlet daerah, baik yang berada di bawah naungan Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) maupun organisasi rekreasi olahraga seperti Komite Olahraga Rekreasi Masyarakat Indonesia (KORMI).
Semua organisasi keolahragaan, kata Bupati, diharapkan dapat menjadikan turnamen sebagai ajang peningkatan kemampuan dan mental bertanding. Ini adalah upaya terpadu untuk memastikan fondasi olahraga daerah kuat dan berkelanjutan.
Ardiansyah Sulaiman menambahkan bahwa nilai utama dari turnamen bukan hanya persoalan siapa juara, melainkan kesempatan belajar yang diperoleh atlet muda maupun masyarakat yang menyaksikan pertandingan. Setiap laga yang mempertemukan atlet lokal dengan pemain profesional memberikan gambaran nyata tentang kualitas permainan yang harus dicapai jika atlet Kutai Timur ingin bersaing lebih jauh di tingkat regional maupun nasional. Strategi ini diharapkan mampu menghasilkan bibit-bibit unggul futsal yang siap berkompetisi di berbagai ajang besar mendatang. (adv/Diskominfo Kutim)




















