
SANGATTAKU – Pemerintah Kabupaten Kutai Timur (Kutim) secara resmi menggelar pembukaan perhelatan budaya Erau Adat Pelas Benua Kutim yang dipusatkan di Lapangan Rumah Pore Adat Kutai, Jalan Ring Road (11/10/2026). Pelaksanaan tradisi sakral ini menjadi agenda penting dalam upaya merawat warisan leluhur serta memperkuat identitas budaya Kutai di tengah arus modernisasi zaman.

Bupati Kutai Timur, Ardiansyah Sulaiman, yang hadir membuka acara secara langsung menegaskan bahwa pelaksanaan Erau Adat Pelas Benua jauh dari kesan sekadar pesta rakyat maupun seremonial belaka. Menurutnya, rangkaian tradisi tersebut menyimpan nilai historis serta pesan luhur yang wajib diturunkan kepada generasi penerus bangsa.
“Daerah yang kuat bukan hanya daerah yang maju secara ekonomi dan memiliki infrastruktur megah, tetapi juga mampu menjaga identitas adat, istiadat, dan budaya warisan para pendahulu,” ujar Ardiansyah saat memberikan sambutannya.
Ia menambahkan, akar peradaban Kutai yang panjang harus dijadikan fondasi kebanggaan sekaligus dorongan moral agar pembangunan daerah berjalan selaras dengan pelestarian kebudayaan lokal. Pada kesempatan tersebut, Bupati juga mengupas makna filosofis di balik tema kegiatan tahun ini, yakni Adat Lestari, Tuah Benua, Etam Berjaya.
Tema tersebut membawa misi agar tradisi daerah tetap hidup, kekayaan alam mendatangkan berkah kesejahteraan, serta masyarakat bergerak progresif menuju kemajuan tanpa kehilangan jati diri asalnya. Terkait frasa Tuah Benua, Ardiansyah mengaitkannya dengan limpahan sumber daya alam Kutim seperti batu bara, minyak bumi, sektor perkebunan, hingga pertanian yang pengelolaannya menuntut kearifan lingkungan.
“Kita tidak menginginkan alam yang begitu kaya justru tidak menghadirkan kedamaian. Karena itu, keharmonisan dan kehidupan masyarakat yang damai serta bersatu harus terus kita jaga,” tegasnya.
Selain menyoroti kekayaan sumber daya alam, Ardiansyah turut mengangkat potensi Geopark Mangkalihat yang menyimpan nilai penting di bidang geologi, sejarah, serta kebudayaan, sembari berharap kawasan tersebut segera memperoleh penetapan resmi dari pemerintah pusat. Pihaknya mengajak seluruh elemen masyarakat untuk mengintegrasikan pelestarian lingkungan dan adat istiadat sebagai bagian esensial dari arah pembangunan jangka panjang daerah.
“Allah memberikan alam ini bukan untuk dihancurkan, tetapi untuk dimanfaatkan dengan baik dan memberikan kedamaian bagi masyarakat yang hidup di dalamnya,” pungkas Ardiansyah. (adv/Diskominfo Kutim)






















