
SANGATTAKU – Dinas Kesehatan Kabupaten Kutai Timur memperkuat pembinaan Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu) sebagai langkah strategis menekan angka stunting serta meningkatkan kualitas layanan kesehatan masyarakat. Penguatan ini difokuskan melalui orientasi bagi tenaga kesehatan Puskesmas se-Kabupaten Kutai Timur yang digelar di Kota Samarinda, Kalimantan Timur, Senin (5/10/2026).

Kepala Dinas Kesehatan Kutai Timur, Yuwana Sri Kurniawati, menjelaskan bahwa Posyandu memiliki peran vital dalam mendekatkan pelayanan kesehatan hingga ke tingkat desa dan kelurahan, terutama di tengah tantangan luasnya kondisi geografis wilayah Kutai Timur.
“Keberadaan Posyandu yang aktif dan berkualitas menjadi sangat penting,” ujar Yuwana dalam sambutannya. Seiring transformasi layanan kesehatan primer, Posyandu kini diarahkan untuk memberikan pelayanan terintegrasi berdasarkan siklus hidup mulai dari bayi, balita, hingga lanjut usia.
Penguatan pembinaan ini mendesak dilakukan mengingat cakupan pemantauan pertumbuhan anak masih perlu digenjot. Berdasarkan data PENTAS KUTIM dari aplikasi Sigizikesgas per 31 Agustus 2026, tercatat sebanyak 18.835 anak telah diukur.
Namun, rasio kehadiran balita yang ditimbang dibanding total sasaran (cakupan D/S) baru mencapai 54,91 persen, masih jauh dari target 100 persen. Dari jumlah tersebut, tercatat 2.422 anak mengalami stunting (12,86 persen), ditambah 434 kasus wasting (gizi buruk/kurang) dan 1.029 kasus underweight (berat badan kurang).
Variasi cakupan antar-wilayah juga cukup kontras. Puskesmas Karangan mencatat cakupan D/S tertinggi sebesar 99,05 persen, disusul Busang (86,70 persen) dan Muara Wahau I (83,52 persen). Sebaliknya, cakupan terendah tercatat di Puskesmas Sangkulirang (35,83 persen), Sepaso (40,25 persen), dan Kaubun (40,80 persen). Perbedaan ini menjadi acuan evaluasi bagi Dinas Kesehatan.

Selain masalah gizi, Dinas Kesehatan juga menyoroti kesehatan ibu dan anak setelah tercatat adanya tujuh kasus kematian ibu dan/atau anak yang memerlukan perhatian serius. Kondisi ini mendorong perlunya penguatan deteksi dini faktor risiko, peningkatan kualitas pelayanan, kesiapsiagaan kegawatdaruratan, serta sistem rujukan yang cepat dan efektif.
Dalam kegiatan orientasi tersebut, puluhan tenaga kesehatan Puskesmas dibekali berbagai materi teknis, mulai dari persiapan hari buka Posyandu, pelaksanaan pelayanan, pencatatan dan pelaporan, hingga 25 keterampilan dasar kader Posyandu serta integrasi lintas program.
Melalui inovasi PENTAS KUTIM, Dinas Kesehatan terus mendorong percepatan penginputan data agar hasil penimbangan dan pengukuran tercatat tepat waktu dan akurat.
Di akhir kegiatan, Yuwana berharap para tenaga kesehatan dapat menjadi agen penggerak di wilayah kerja masing-masing. Pembinaan kader yang berkelanjutan serta pemanfaatan data yang akurat diyakini mampu membuat pelayanan kesehatan masyarakat Kutai Timur semakin tepat sasaran. (adv/Diskominfo Kutim)






















