
SANGATTAKU – Pemerintah Kabupaten Kutai Timur (Pemkab Kutim) terus meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kemarau panjang, meskipun hujan berintensitas ringan hingga sedang mulai turun di sejumlah wilayah setempat.
Wakil Bupati Kutai Timur, Mahyunadi, menyatakan bahwa kondisi daerahnya saat ini belum masuk kategori kekeringan parah. Meskipun begitu, pemerintah daerah tetap mengambil langkah antisipasi dan memantau perkembangan cuaca secara berkala apabila musim kering berlangsung lebih lama dari perkiraan.

Langkah antisipasi ini didasarkan pada pola cuaca yang pernah terjadi di wilayah Kutai Timur pada 1997 dan 2015. Pada dua periode tersebut, musim kemarau tercatat berlangsung panjang hingga melintasi akhir tahun, yakni bulan Desember.
“Di Kutim secara normal tidak terlalu kekeringan. Kalau berkaca kepada tahun 1997 dan 2015, kemaraunya sampai Desember. Kita khawatirnya di situ,” ujar Mahyunadi usai mengikuti salat istisqa di Lapangan Kantor Bupati Kutai Timur, Sangatta, Rabu (9/9/2026).
Lebih lanjut, Mahyunadi menilai hujan yang sempat mengguyur sejumlah desa dan pemukiman warga belum menjadi indikator pasti berakhirnya musim kemarau. Menurutnya, pola cuaca serupa pernah terjadi pada tahun-tahun sebelumnya, ketika hujan hanya turun singkat sebelum kembali disusul kekeringan panjang.
Melihat kondisi cuaca yang belum stabil, Pemkab Kutim membuka peluang untuk kembali menyelenggarakan salat istisqa berjemaah apabila hujan belum turun secara merata dalam waktu dekat. Hingga saat ini, ibadah meminta hujan tersebut sudah diselenggarakan sebanyak dua kali oleh pemerintah daerah bersama masyarakat Kutai Timur.
“Salat istisqa itu pada zaman yang dulu tidak dilakukan hanya sekali. Dilakukan berkali-kali. Yang sudah hujan kemarin kita mintakan lagi kepada Allah, mudah-mudahan hujannya dilebatkan, yang memberi berkah pada Kutim,” pungkas Mahyunadi. (adv/Diskominfo Kutim)




















