
SANGATTAKU – Jaringan komunitas turut membantu penjangkauan kelompok sasaran Human Immunodeficiency Virus (HIV) yang sulit diakses oleh petugas kesehatan di Kabupaten Kutai Timur. Seluruh temuan di lapangan ini nantinya akan diintegrasikan ke dalam sistem pencatatan resmi Kementerian Kesehatan (Kemenkes).
Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kutai Timur, Yuwana Sri Kurniawati, menjelaskan bahwa langkah ini merupakan hasil kerja sama lintas sektor antara Dinkes, Komisi Penanggulangan AIDS Daerah (KPAD), dan jaringan komunitas.

Menurut Yuwana, pendekatan non-formal yang dilakukan oleh komunitas terbukti efektif menembus kelompok masyarakat tertutup yang selama ini luput dari pemetaan petugas formal, salah satunya kelompok lelaki seks dengan lelaki (LSL).
“Sehingga yang tadinya tertutup, kita tidak tahu kalau ini ternyata, maaf misalnya LSL yang kemarin kasusnya sempat tinggi, bisa teridentifikasi,” ujar Yuwana.
Metodologi penjangkauan yang fleksibel membuat jaringan komunitas dapat bergerak lebih luas dibanding petugas resmi yang kerap terbentur batasan administratif maupun akses lingkungan.
“Kalau petugas resmi yang turun, data yang bisa diinput mungkin hanya sekitar 200. Ternyata teman-teman dari komunitas bisa bergerak lebih luas, masuk ke kafe, lokalisasi, atau bahkan melalui aplikasi percakapan seperti MiChat, sehingga orang-orang sasarannya jadi kelihatan,” terangnya.
Selama ini, hasil temuan mandiri di lapangan tersebut kerap disebut sebagai “data bayangan”. Guna menciptakan validitas data yang akurat, Dinkes Kutai Timur bersama Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) akan mengoordinasikan pencatatannya agar berselaras dengan sistem nasional.
“Dengan adanya koordinasi bersama KPA, data yang tadinya disebut ‘data bayangan’ itu akan kita input. Sehingga nanti semuanya bisa masuk ke data Kementerian Kesehatan dan datanya bisa sinkron,” pungkas Yuwana. (adv/Diskominfo Kutim)





















