
SANGATTAKU – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Kutai Timur (Kutim) mengintegrasikan pelacakan (tracking) kasus tuberkulosis (TBC) ke dalam program pelayanan kesehatan bergerak atau dokter keliling. Langkah strategis ini diambil guna menekan angka penularan di tengah masih tingginya kasus TBC di daerah tersebut.

Kepala Dinkes Kutim, Yuwana Sri Kurniawati, menjelaskan bahwa pelayanan ini melibatkan tim gabungan yang terdiri atas tenaga Dinkes, dokter spesialis, serta tenaga penunjang dari Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dan rumah sakit swasta. Tenaga medis diturunkan secara bergantian dan jenis spesialisnya disesuaikan secara spesifik dengan peta serta pola penyakit di masing-masing wilayah sasaran.
“Dokternya yang datang kita sesuaikan. Pola penyakit di satu wilayah berbeda dengan wilayah lainnya,” ujar Yuwana.
Sejumlah wilayah terpencil telah menjadi sasaran layanan jemput bola ini, di antaranya Kecamatan Sandaran dan Batu Ampar. Dalam waktu dekat, Dinkes Kutim menjadwalkan kegiatan serupa di Kecamatan Karangan, yang juga akan difokuskan secara khusus untuk mendeteksi serta memutus rantai penyebaran TBC di tingkat akar rumput.
Selain pemeriksaan kesehatan umum dan program cek kesehatan gratis bagi masyarakat, integrasi tracking TBC ini dinilai sangat efektif. Pasalnya, tim medis dapat langsung melakukan penelusuran riwayat kontak dan pemeriksaan dahak di lapangan, sehingga penemuan kasus baru bisa dilakukan lebih cepat dan akurat.
Program pelayanan bergerak ini merupakan salah satu dari lima program unggulan Dinkes Kutim. Inisiatif tersebut dihadirkan sebagai wujud nyata dukungan terhadap visi kepala daerah dalam memperluas pemerataan akses kesehatan berkualitas, sekaligus mengoptimalkan penanganan penyakit menular hingga ke pelosok wilayah Kutai Timur. (adv/Diskominfo Kutim)





















