SANGATTAKU – Expo Kutai Timur 2026 mencatat nilai transaksi sekitar Rp4,25 miliar. Capaian tersebut menjadi salah satu hasil rangkaian peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-27 Kabupaten Kutai Timur. Namun, di tengah geliat ekonomi dan rencana investasi berskala besar, Bupati Kutai Timur, Ardiansyah Sulaiman, menegaskan pentingnya memastikan pertumbuhan ekonomi memberikan manfaat nyata bagi masyarakat, terutama melalui penyerapan tenaga kerja lokal.
Ketua Panitia Pelaksana Expo Kutai Timur 2026, Trisno, mengatakan pelaksanaan expo tahun ini mendapat antusiasme tinggi dari masyarakat. Pengunjung terus berdatangan hingga hari terakhir penyelenggaraan.

“Penyelenggaraan expo tahun ini dapat dikatakan sesuai dengan target, terutama dengan total transaksi sejumlah Rp4,25 miliar,” ujar Trisno dalam laporannya.
Selain mendorong aktivitas ekonomi masyarakat, Expo Kutai Timur 2026 juga menjadi bagian dari rangkaian perayaan HUT ke-27 Kabupaten Kutai Timur yang diisi dengan berbagai agenda kebudayaan, kepemudaan, serta pelibatan berbagai unsur masyarakat.
Meski mencatat transaksi miliaran rupiah, keberhasilan kegiatan ekonomi daerah tidak hanya diukur dari nilai transaksi selama acara berlangsung. Tantangan berikutnya adalah menjaga keberlanjutan aktivitas ekonomi serta memastikan peluang usaha dan investasi mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Dalam konteks tersebut, Bupati Kutai Timur, Ardiansyah Sulaiman, menyoroti sejumlah rencana investasi berskala besar yang diproyeksikan masuk ke daerah. Di antaranya, proyek hilirisasi batu bara melalui gasifikasi menjadi metanol dengan nilai investasi sekitar Rp41 triliun serta rencana investasi sekitar Rp30 triliun di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Maloy. Kedua proyek tersebut diperkirakan mulai berproduksi pada rentang 2029–2030.
Ardiansyah menegaskan, besarnya nilai investasi harus diikuti dampak nyata terhadap perkembangan ekonomi kerakyatan dan kesejahteraan masyarakat Kutai Timur.
“Bagaimana investasi itu memberikan dampak positif terhadap perkembangan ekonomi kerakyatan, terhadap kesejahteraan masyarakat Kabupaten Kutai Timur,” tegasnya.

Ia meminta perangkat daerah terkait, khususnya instansi yang membidangi ketenagakerjaan, agar proaktif menjalin komunikasi dengan perusahaan yang berinvestasi di Kutai Timur. Langkah tersebut diperlukan untuk mengidentifikasi kebutuhan tenaga kerja serta memastikan masyarakat lokal memperoleh kesempatan untuk bekerja dan terlibat dalam kegiatan industri.
“Jangan kita hanya melihat ada perusahaan, ada apa, tapi kita hanya berdiam diri. Lakukan dengan segera komunikasi. Apa yang harus kita lakukan,” imbuh Ardiansyah.
Menurutnya, pemerintah daerah juga perlu mengidentifikasi peluang kerja yang tersedia bagi masyarakat setempat dan menghitung dampak berantai (multiplier effect) investasi terhadap perekonomian regional. Dengan demikian, keberadaan industri tidak hanya memberikan keuntungan bagi perusahaan, tetapi juga mendorong pertumbuhan sektor usaha lainnya.
Ardiansyah turut menekankan pentingnya pengembangan ekonomi masyarakat hingga tingkat desa melalui berbagai kegiatan produktif, termasuk program padat karya. Upaya tersebut dinilai perlu berjalan beriringan dengan investasi berskala besar agar manfaat pembangunan dapat dirasakan lebih luas.
Dengan nilai transaksi Expo Kutai Timur 2026 mencapai Rp4,25 miliar dan proyeksi investasi puluhan triliun rupiah pada tahun-tahun mendatang, keberhasilan pembangunan ekonomi daerah pada akhirnya ditentukan oleh sejauh mana pertumbuhan tersebut membuka kesempatan kerja, memperluas peluang usaha, dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat lokal. (Mk/ sgtk)





















