
SANGATTAKU – Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman (Perkim) Kabupaten Kutai Timur (Kutim) menemukan masih adanya pemahaman yang keliru di masyarakat mengenai kriteria fasilitas sanitasi standar. Berdasarkan pemeriksaan langsung di lapangan, petugas menjumpai sejumlah warga yang menganggap penampungan limbah berbahan bus beton atau gorong-gorong sudah memenuhi fungsi sebagai tangki septik.

Kepala Bidang Permukiman Dinas Perkim Kutim, Mohammad Noor, menjelaskan bahwa penggunaan gorong-gorong atau bus beton sebagai penampungan limbah tidak memenuhi standar teknis sanitasi. Model pembuangan tersebut masih memiliki celah yang memungkinkan limbah cair meresap langsung ke dalam tanah dan berpotensi mencemari sumber air bersih warga.
“Kadang masyarakat berpikir sudah punya tangki septik. Tetapi ketika kami lihat di lapangan, ternyata hanya gorong-gorong atau bus beton,” terang Noor saat memberikan keterangan di ruang kerjanya, Kamis (10/9/2026).
Merespons temuan tersebut, Dinas Perkim Kutim menerapkan sistem verifikasi yang berfokus pada kelayakan standar teknis fasilitas sanitasi, bukan sekadar ketersediaan fisiknya. Fasilitas penampungan limbah warga yang diketahui belum memenuhi kriteria teknis dikategorikan belum memiliki tangki septik standar, sehingga dapat diusulkan untuk menerima bantuan penggantian unit baru secara gratis.

“Jadi verifikasi kami di lapangan bukan ada atau tidak ada tangki septik, tetapi standar atau tidak standar tangki septik. Walaupun dia sudah ada, tetapi memang tidak standar, kami anggap tetap tidak ada,” tegas Noor.
Untuk mengatasi permasalahan tersebut, Dinas Perkim Kutim telah menyiagakan stok unit tangki septik terstandar yang dirancang kedap untuk mencegah resapan limbah ke air tanah. Program bantuan pemasangan gratis ini ditujukan bagi rumah swadaya milik masyarakat umum, dengan prioritas pada pemukiman yang masuk dalam peta kawasan kumuh.
Noor menegaskan bahwa pembenahan sanitasi ini menjadi bagian dari penataan kawasan kumuh di Kabupaten Kutai Timur, mengingat kondisi sanitasi merupakan salah satu indikator dalam penentuan tingkat kekumuhan suatu wilayah.
“Kalau di kawasan kumuh khususnya, itu yang kami prioritaskan terlebih dahulu karena bagian dari salah satu indikator kumuh adalah sanitasi,” imbuhnya.
Melalui pendataan berkala, sosialisasi teknis mengenai fasilitas sanitasi standar, serta penyaluran bantuan unit tangki septik secara langsung, Dinas Perkim Kutim terus berupaya memenuhi kebutuhan sanitasi yang aman bagi lingkungan masyarakat. (adv/Diskominfo Kutim)




















