
SANGATTAKU – Dinas Perhubungan (Dishub) Kabupaten Kutai Timur mengambil langkah pragmatis dalam rencana penambahan armada bus pelajar pada 2027 mendatang. Alih-alih melanjutkan tren kendaraan listrik seperti yang sudah beroperasi di Kota Sangatta, Dishub justru menjatuhkan pilihan pada armada konvensional.

Keputusan ini diambil bukan tanpa alasan. Faktor ketersediaan infrastruktur pendukung, khususnya stasiun pengisian daya di luar wilayah perkotaan, menjadi kendala utama yang belum teratasi di tingkat kecamatan.
“Dikarenakan ketersediaan infrastruktur pendukung bus listrik tidak tersedia di kecamatan. Jadi kita mengganti dengan bus konvensional biasa,” ujar Sekretaris Dishub Kutai Timur, Masrianto Suriansyah, saat ditemui di ruang kerjanya.
Meski langkah ini dinilai paling realistis demi pemerataan akses, tantangan besar masih menghadang dari segi jumlah unit. Berdasarkan Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) 2027, Dishub baru menyusun pengadaan satu unit bus pelajar tambahan.
Angka tersebut dinilaikan masih sangat minim jika harus melayani kebutuhan mobilitas pelajar di luar Kota Sangatta yang memiliki wilayah geografis luas. Oleh karena itu, pihak Dishub berharap alokasi tersebut masih bisa diperjuangkan untuk bertambah seiring pembahasan anggaran berjalan.
Sebagai catatan, saat ini layanan bus pelajar gratis di Kota Sangatta dengan rute Jalan Soekarno-Hatta, SMK 2, hingga Sangatta Lama baru didukung oleh satu unit armada operasional.
Menyadari keterbatasan fiskal daerah dalam pengadaan armada massal, Dishub Kutai Timur mulai membidik alternatif pendanaan luar APBD. Salah satu opsi paling potensial adalah mengoptimalkan program Corporate Social Responsibility (CSR) atau Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) dari perusahaan-perusahaan yang beroperasi di wilayah Kutai Timur.
Masrianto menerangkan, dukungan perusahaan melalui program CSR atau TJSL tersebut nantinya berada dalam kebijakan Wakil Bupati Kutai Timur selaku Ketua TJSL. (adv/Diskominfo Kutim)






















