
SANGATTAKU – Wakil Bupati Kutai Timur, Mahyunadi, meminta masyarakat tidak hanya menghindari aktivitas pembakaran lahan, tetapi juga menjaga lahan masing-masing agar tidak mudah terbakar selama musim kemarau. Mahyunadi menyebut, beberapa warga di Kutai Timur telah terciduk melakukan pembakaran lahan. Ia mengingatkan masyarakat untuk mengikuti aturan yang berlaku, mengingat Kutai Timur belum memiliki Peraturan Daerah (Perda) kearifan lokal yang mengatur pembakaran lahan.

“Di Kutai Timur sih sudah ada beberapa yang terciduk. Dan kita enggak ada Perda kearifan lokal tentang membakar lahan. Jadi kita ikuti aturan,” jelas Mahyunadi.
Ia juga mengingatkan, kebakaran lahan tidak selalu terjadi akibat aktivitas pembakaran. Kondisi panas matahari juga dapat menyebabkan lahan terbakar sehingga kewaspadaan masyarakat diperlukan untuk mencegah terjadinya kebakaran.
“Kan kadang-kadang lahan itu terbakar sendiri karena ada panas matahari. Jadi saya berharap masyarakat bukan hanya tidak membakar lahan, tapi justru menjaga lahan kita agar tidak terbakar,” imbuhnya.
Saat disinggung mengenai kemungkinan pemerintah daerah menginisiasi aturan serupa yang mengatur pembakaran lahan berdasarkan kearifan lokal, Mahyunadi menilai hal tersebut belum menjadi kebutuhan mendesak di Kutai Timur.
“Kayaknya kita belum urgent,” pungkasnya.
Sementara itu, Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Kutai Timur, Muhammad Naim, menyebut dampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) telah terjadi di hampir seluruh kecamatan. Meski demikian, penanganan di sejumlah wilayah terus dilakukan, khususnya di Sangatta Utara dan Sangatta Selatan.

“Dan hampir semua kecamatan kita juga terdampak. Namun alhamdulillah penanganan di kecamatan-kecamatan baik itu Sangatta Utara dan Sangatta Selatan khususnya,” terangnya saat ditemui langsung di Kantor BPBD Kutai Timur, Selasa (15/9/2026).
Penanganan karhutla melibatkan sejumlah unsur, mulai dari TNI, Polri, Manggala Agni, KPHP, Damkar, Dinas Kesehatan, pihak Kecamatan Sangatta Utara dan Sangatta Selatan, Rescue KPC, hingga para relawan.
Dukungan peralatan penanganan karhutla juga telah tersedia di masing-masing kecamatan. Peralatan tersebut mencakup kendaraan dan perlengkapan pendukung pemadaman yang disalurkan melalui dukungan DBH-DR.
Dalam pelaksanaannya, pemenuhan kebutuhan air menjadi salah satu kendala yang dihadapi petugas di lapangan. Kondisi akses menuju lokasi kebakaran terkadang tidak memungkinkan kendaraan berukuran besar masuk, sehingga petugas harus mengambil dan mengangkut air secara bertahap. Untuk kebutuhan tersebut, BPBD juga mendapat dukungan dari PDAM dalam pendistribusian air.

Naim juga menjelaskan, informasi mengenai titik panas tidak dapat langsung disimpulkan sebagai kejadian karhutla. Setiap titik yang terpantau masih perlu dicek dan diverifikasi di lapangan karena sumber panas dapat berasal dari kondisi lain, seperti atap seng yang terkena paparan matahari, genangan air, maupun tumpukan batu bara.
Di sisi pencegahan, Naim meminta masyarakat turut berperan agar kejadian karhutla tidak kembali terjadi. Salah satunya dengan tidak membuka lahan menggunakan cara dibakar.
“Tentu kami dari BPBD beserta dengan tim yang lain juga mengharapkan adanya partisipasi dari seluruh lapisan masyarakat sehingga kejadian karhutla ini tidak berulang, ya,” jelasnya.
Ia juga mengingatkan warga yang merokok agar tidak membuang puntung rokok yang masih menyala sembarangan, terutama dalam kondisi kemarau yang cukup panjang.
Selain itu, pengawasan terhadap anak-anak juga dinilai perlu diperhatikan untuk mencegah penggunaan api tanpa pengawasan. Naim mencontohkan kejadian di Sangatta Selatan yang bermula ketika anak-anak membakar sarang tawon. Api yang digunakan kemudian terjatuh dan menyebabkan kebakaran lahan.
“Jangan sampai lepas dari pengawasan orang tua, mereka main korek. Seperti kejadian di Sangatta Selatan itu awalnya mereka itu membakar sarang tawon, api yang dipegang anak-anak itu jatuh. Sehingga inilah yang menyebabkan terjadinya karhutla,” tutup Naim. (adv/Diskominfo Kutim)




















